Analisa Usaha Sapi Potong

Friday, October 3rd, 2014 - Usaha Peternakan
Advertisement

Analisa usaha sapi potong – Kesuksesan sebuah usaha peternakan diukur dari total keuntungan yang didapat, hingga pola usaha peternakan mesti mengarah pada pola produksi untuk mendapatkan keuntungan, dengan menerapkan beragam prinsip ekonomi untuk mendapatkan keuntungan yang besar.

Dalam hal ini, pelaku peternakan harus mengetahui alat analisa usaha yakni analisa finansial, diantaranya analisa perbandingan biaya serta analisa pendapatan biaya. Analisa finansial itu mempunyai tujuan agar dapat mengetahui tingkat keuntungan yang didapat dari usaha sapi potong dalam kelayakan usaha, serta untuk menghindari macam – macam investasi yang dapat merugikan. Pada dasarnya, perhitungan antara laba dan rugi dapat di lihat dari biaya, pendapatan dan keuntungan.

Analisa Usaha Sapi Potong

Perkiraan Analisa Usaha Sapi Potong

I. Pendapatan usaha ternak, mencakup dari hasil penjualan ternak serta limbah kandang.

II. Pengeluaran usaha ternak, mencakup dari mulai pembelian bibit sapi, obat-obatan, pakan, tenaga kerja serta biaya angkutan.

III. Pendapatan (laba kotor = pendapatan usaha ternak – pengeluaran usaha ternak).

IV. Pengeluaran biaya tetap, mencakup pajak, biaya kandang serta peralatan.

Tenaga Kerja.

Curahan tenaga kerja usaha peternakan yaitu jumlah waktu yang dibutuhkan dalam produksi. Pada umumnya, tingkat gaji tenaga kerja serta mesin kebutuhan ternak berbeda pada setiap tahunnya, semua tergantung pada jenis pekerjaan yang dilakukan, jenis kelamin ternak, dan usia buruh tani ternak tersebut.

Untuk menghitung jumlah biaya tenaga kerja, jenis tenaga kerja harus dicatat dalam waktu mingguan menurut jenis pekerjaan masing – masing, jenis kelamin serta usia, tenaga kerja keluarga (kalau ada).

Fasilitas produksi.

fasilitas produksi mencakup bahan bakar dan biaya servis alsintan. Biaya pengangkutan juga mesti dicatat terlebih untuk para petani yang mengangkut pupuk dari tempat jauh atau untuk menjual hasil produksi ke tempat lain.

Hasil produksi.

Hasil ternak utama misalnya dari hasil limbah kandang yang segar atau limbah yang sudah di proses menjadi pupuk.

Harga, gaji, serta suku bunga.

Adalah harga pasar fasilitas produksi, gaji, harga produk serta bunga bank, apabila para petani tidak menjual hasil panennya, jadi bisa dipakai sebagai harga bayangan untuk melihat harga produk yang di jual oleh petani lain untuk kualitas yang hampir sama. Harga yang sesuai yaitu harga pasar paling dekat dengan daerah peternakan.

Analisa kelayakan finansial.

Dalam analisa ini, keuntungan bersih dari usaha sapi potong bisa digunakan juga sebagai indikator kelayakan usaha peternakan.

Berikut Tabel Analisa Usaha Sapi Potong di Kabupaten Bantul Tahun 2005-2006

No

Uraian

Harga

Akhir Tahun 2005

Akhir Tahun 2006

Volume

Jumlah

Volume

Jumlah

I. Biaya Tetap

64.890.000

82.600.000

Pengadaan Induk

3.500.000

49

60

Penyusutan kandang

500.000

39

19.500.000

50

25.000.000

Sewa lahan (unit)

900.000

39

35.100.000

50

45.000.000

Bunga kredit indukan (6%)

210.000

49

10.290.000

60

12.600.000

II. Biaya Variable

85.123.375

107.595.000

1. Biaya eksplisit

31.742.550

39.157.500

Pakan konsentrat (kg)

850

26.828

22.803.375

32.850

27.922.500

Obat/vaksin (paket)

5.000

196

980.000

240

1.200.000

Perkawinan (kali)

25.000

117

2.927.750

143

3.585.000

Alat habis pakai (unit)

45.000

39

1.55.000

50

2.250.000

Listrik (unit x bulan)

24.000

39

936.000

50

1.200.000

Iuran (bulan)

60.000

39

2.340.000

50

3.000.000

2. Biaya Implisit

53.381.250

68.437.500

Tenaga kerja (HOK)

15.000

3.558,75

53.381.250

4.562,5

68.437.500

III. Penerimaan

218.258.500

293.490.000

Pedet < 3 bulan (ekor)

2.500.000

7

17.500.000

10

25.000.000

Pedet > 3 bulan (ekor)

3.100.000

12

37.200.000

15

46.500.000

Pedet 3 – 12 bulan (ekor)

3.500.000

18

63.000.000

31

108.500.000

Dara > 12 bulan (ekor)

4.500.000

14

63.000.000

15

67.500.000

Limbah kandang (ton)

300.000

125

37.558.500

153

45.990.000

IV. Keuntungan (III – II – I)

68.244.700

143.190.000

B/C (IV : (I + II))

0,45

0,75

R/C (III : (III + (I + II))

1,45

1,54

Dari hasil data analisa usaha sapi potong diatas terlihat jelas mengenai perkembangannya yakni besarnya biaya yang telah dikeluarkan (eksplisit) pada tahun 2005 serta 2006 masing-masing mencapai Rp 31. 742. 125 serta Rp 39. 157. 500. Sementara untuk biaya implisit sebagai biaya tenaga kerja yang dipakai dalam pengurusan ternak masing-masing sebesar Rp 218. 258. 500 serta Rp 293. 490. 000. Keuntungan yang didapat atas biaya variabel pada usaha sapi potong tersebut sebesar Rp 68. 244. 700 serta Rp 143. 190. 000.

Dilihat dari keuntungan atas biaya eksplisit, usaha ternak tersebut bisa di katakan kurang menguntungkan, tetapi sebenarnya, petani masih tetap mempunyai modal awal berbentuk induk sapi yang produktif. Biaya implisit sebagai tenaga kerja keluarga, adalah penghasilan tambahan jika peternak tidak mempunyai kesibukan.

Saya harap, dengan adanya pembahasan tentang analisa usaha sapi potong ini bisa menjadi gambaran bagi anda  sebelum anda memulai usaha tersebut. Sebagai gambaran lainnya, anda juga bisa melihat pembahasan tentang analisa usaha sapi perah.

Advertisement
Analisa Usaha Sapi Potong | analisausaha | 4.5
error: Content is protected !!